SuaraParlemen.id, Lebanon – Sebanyak tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) dilaporkan gugur saat menjalankan tugas di Lebanon Selatan. Insiden terbaru terjadi pada Selasa (31/3) ketika sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat wilayah Bani Hayyan.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI telah mengonfirmasi gugurnya dua prajurit dalam insiden ledakan konvoi tersebut. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, menyatakan bahwa selain korban jiwa, terdapat juga prajurit yang mengalami luka-luka.
“Dua prajurit TNI dilaporkan gugur, dan ada pula yang terluka,” ujar Rico dalam keterangannya.
Sebelum peristiwa ini, satu prajurit TNI lainnya telah dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (29/03). Prajurit tersebut gugur akibat serangan artileri yang menghantam lokasi kontingen Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan, di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan pemerintah Indonesia. Ia mendesak semua pihak untuk menghormati hukum internasional dan menjamin keamanan personel PBB.
Senada dengan hal tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengecam keras serangan yang terjadi di wilayah Lebanon Selatan. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus dihormati sepenuhnya.
“Segala bentuk ancaman terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan merusak upaya kolektif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas,” tegas pihak Kemlu RI.
Indonesia juga menyerukan penghentian serangan terhadap penduduk sipil serta mendorong seluruh pihak untuk kembali ke meja dialog dan diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. (Amel)

