SuaraParlemen.id, Istanbul – Pemerintah Pakistan secara resmi mengonfirmasi peran langsungnya sebagai mediator dalam menyampaikan pesan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah besar ini diambil sebagai upaya nyata untuk mengakhiri konflik bersenjata yang tengah membara di kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menegaskan bahwa dialog tidak langsung antara kedua negara tersebut tengah berlangsung dengan Pakistan sebagai perantaranya. Ia juga mengonfirmasi adanya rencana perdamaian berisi 15 poin dari AS yang kini sedang dipertimbangkan oleh pihak Iran.

“Dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan ke depan. Pakistan tetap berkomitmen penuh untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan,” ujar Ishaq Dar melalui platform X, (27/3).

Pernyataan ini muncul di tengah momentum krusial pekan ini, di mana sumber diplomatik di Islamabad mengisyaratkan adanya potensi terobosan besar. Meski delegasi AS dijadwalkan akan berkunjung, pihak Iran dilaporkan masih bersikap hati-hati akibat krisis kepercayaan yang mendalam.

Dalam inisiatif damai ini, Pakistan juga mengapresiasi dukungan dari negara-negara sahabat seperti Turki dan Mesir yang turut mendorong terciptanya stabilitas.

Kondisi Timur Tengah sendiri saat ini berada dalam status siaga tinggi. Ketegangan memuncak sejak serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal massal yang tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga berdampak pada kerusakan infrastruktur serta gangguan signifikan pada pasar global dan jalur penerbangan internasional. (Amel)

Baca juga :  Kesepakatan Dagang RI-AS: Tarif Ekspor Turun Jadi 19%, Indonesia Bebaskan Pajak 99% Produk AS