SuaraParlemen.id, Jakarta – Pemerintah memutuskan untuk menambah anggaran subsidi energi guna meredam dampak lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Langkah ini diambil untuk memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan hingga hari raya Idulfitri 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa meskipun harga minyak dunia saat ini telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN, negara berkomitmen untuk menanggung selisih harga tersebut.

“Negara akan hadir dengan cara menambah anggaran subsidi. Di APBN kita, ICP dipatok US70, sementara sekarang sudah tembus US100. Selisih kenaikan itu masih mampu dibiayai oleh APBN kita,” ujar Bahlil dalam sebuah tayangan di kanal YouTube ESDM, Kamis (12/3).

Fokus Jaga Daya Beli Jelang Hari Raya

Keputusan untuk menambah subsidi ini telah dikoordinasikan dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Bahlil menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga di tengah momentum puasa dan lebaran agar tidak membebani ekonomi rakyat.

“Saya sudah sampaikan kepada Menkeu, kita harus memahami apa yang dihadapi rakyat saat ini. Sekalipun harga minyak dunia naik, subsidi harus tetap diberikan dan jangan ada kenaikan harga BBM subsidi,” tegasnya.

Gejolak Pasar Global

Melonjaknya harga minyak global memang tidak terhindarkan akibat tensi geopolitik. Pada Rabu (11/3), harga minyak Brent tercatat naik menjadi US88,16 per barel, sementara jenis WTI menguat ke level US84,00 per barel. Bahkan, pada awal pekan, harga sempat menyentuh angka psikologis di atas US$100 per barel.

Meski harga BBM subsidi dipastikan aman, Bahlil mengonfirmasi bahwa harga untuk kategori BBM non-subsidi akan tetap mengikuti mekanisme pasar dunia. “Kalau untuk non-subsidi, mau tidak mau pasti akan menyesuaikan,” pungkasnya. (Amel)

Baca juga :  Pemkab Siak Alokasikan Rp35 Miliar untuk Beasiswa 2026, Sekda Bantah Isu Penghapusan