SuaraParlemen.id, Jakarta – Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang kian membara. Kelompok Houthi dari Yaman secara resmi menyatakan bergabung dalam perang melawan Israel dengan meluncurkan serangan langsung pada Sabtu (28/3/2026). Langkah ini memicu kekhawatiran global akan perluasan zona perang yang lebih luas.

Mengutip laporan Reuters, serangan perdana Houthi ini dikonfirmasi langsung oleh juru bicara militernya, Yahya Saree. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah meluncurkan gelombang serangan kedua dan mengancam akan ada aksi lanjutan.

Masuknya Houthi membuka front baru yang sangat berisiko bagi stabilitas ekonomi dunia. Fokus ancaman kini tertuju pada Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, titik nadi pelayaran menuju Terusan Suez yang sangat krusial bagi perdagangan internasional.

Merespons situasi yang memanas, Amerika Serikat (AS) mulai memperkuat kehadiran militernya. Ribuan marinir dilaporkan telah tiba di kawasan menggunakan kapal serbu amfibi. Berdasarkan laporan The Washington Post, Pentagon dikabarkan tengah menyiapkan skenario operasi darat di Iran yang melibatkan pasukan khusus.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pengerahan pasukan ini bertujuan memberikan fleksibilitas strategi bagi Presiden Donald Trump. “Washington tetap membuka semua opsi untuk memastikan kepentingan strategis terlindungi,” ungkapnya, (30/3).

Perang yang pecah sejak akhir Februari lalu ini telah menelan ribuan korban jiwa. Namun, dampak yang paling dirasakan dunia saat ini adalah guncangan ekonomi akibat terganggunya pasokan energi.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia, kini berada dalam posisi rentan. Jika serangan Houthi meluas ke Bab el-Mandeb, dunia terancam menghadapi krisis energi yang lebih parah akibat terputusnya jalur distribusi utama.

Di tengah dentuman meriam, upaya perdamaian mulai dirintis. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri luar negeri bersama Arab Saudi, Turki, dan Mesir guna mencari jalan keluar dari ketegangan regional ini.

Baca juga :  Kesaksian Ahok Jadi 'Lonceng Kematian' Mafia Migas, Pengamat Desak Kejagung Sikat Aktor Intelektual

Meski demikian, situasi tetap tegang. Pihak Iran secara tegas memperingatkan akan meluncurkan balasan yang jauh lebih keras jika infrastruktur ekonomi atau pusat energi mereka menjadi sasaran serangan Israel dan sekutunya. (Amel)