SuaraParlemen.id, Lebanon – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan udara Israel menghantam wilayah Beirut, Lebanon, pada Rabu (1/4/2026). Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dan 24 lainnya luka-luka akibat serangan yang menargetkan kendaraan dan bangunan di wilayah ibu kota tersebut.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka melancarkan dua serangan terpisah yang menyasar seorang komandan senior Hizbullah serta anggota senior lainnya dari kelompok yang bersekutu dengan Iran. Meski demikian, pihak militer belum mengungkap identitas target tersebut maupun memastikan status keberadaan mereka pascaserangan.

Berdasarkan laporan kantor berita negara Lebanon (NNA), serangan pertama menghantam sebuah kendaraan di wilayah Khaldeh, sebelah selatan Beirut. Insiden ini menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya. Tak lama berselang, serangan kedua mengguncang wilayah Jnah, Beirut, yang mengakibatkan lima orang tewas dan 21 orang lainnya mengalami luka-luka, (2/4).

Rekaman video dari lokasi kejadian menunjukkan ledakan hebat yang menghancurkan bangunan, disertai kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi.

Serangan terbaru ini merupakan bagian dari peningkatan operasi militer Israel di Lebanon yang telah memicu krisis kemanusiaan besar. Hingga saat ini, rangkaian operasi militer tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.200 orang dan memaksa sekitar 1,2 juta warga Lebanon mengungsi dari rumah mereka.

Ketegangan ini berawal saat Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran. Aksi tersebut kemudian memicu balasan serangan darat dan udara besar-besaran dari pihak Israel, yang kini menyeret Lebanon lebih dalam ke pusaran konflik regional di Timur Tengah. (Amel)

Baca juga :  Usut Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Polisi Identifikasi 4 Terduga Pelaku dari 86 Titik CCTV