SuaraParlemen.id, Jakarta – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah ribuan pasukan elite Amerika Serikat mulai tiba di kawasan tersebut. Langkah ini menandai kesiapan Washington dalam mempertimbangkan opsi militer lanjutan, termasuk kemungkinan operasi darat di wilayah Iran.
Dua pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS telah mendarat. Unit ini merupakan pasukan penerjun parashut elit yang memiliki spesialisasi pengerahan cepat untuk operasi tempur skala besar.
“Pengerahan ini akan meningkatkan kapasitas bagi kemungkinan operasi di masa depan di kawasan tersebut,” ujar salah satu sumber pejabat AS kepada Reuters, Selasa (31/3/2026).
Kehadiran pasukan tambahan ini mencakup unsur markas divisi, dukungan logistik, serta satu brigade tempur. Meski belum ada keputusan final untuk masuk ke wilayah Iran, militer AS kini memiliki kesiapan lebih tinggi untuk menjalankan skenario berisiko tinggi.
Salah satu opsi yang dibahas di internal pemerintahan Donald Trump adalah perebutan Pulau Kharg, lokasi yang menjadi pusat ekspor bagi 90% minyak Iran. Selain itu, pasukan darat juga diproyeksikan untuk misi ekstraksi uranium yang diperkaya tinggi di instalasi bawah tanah Iran, serta pengamanan jalur kapal tanker di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump pada Senin menyatakan bahwa AS masih membuka pintu dialog dengan “rezim yang lebih masuk akal”. Namun, ia memberikan peringatan keras kepada Teheran untuk tidak menutup Selat Hormuz.
“Buka Selat Hormuz atau hadapi risiko serangan terhadap ladang minyak dan pembangkit listrik,” tegas Trump.
Kendati demikian, penggunaan pasukan darat tetap menjadi pertaruhan politik besar bagi Trump. Publik AS cenderung memberikan dukungan rendah terhadap keterlibatan konflik baru di Timur Tengah, mengingat janji kampanye Trump untuk menghindari “perang tanpa akhir”.
Sejak operasi bertajuk Operation Epic Fury dimulai pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat tercatat telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 11.000 target. Hingga saat ini, konflik tersebut telah menyebabkan 13 anggota militer AS tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka. (Amel)

