SuaraParlemen.id, NTT – Kabar duka menyelimuti Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBR (10) ditemukan tewas gantung diri. Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh tekanan ekonomi keluarga, di mana orang tua korban belum mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah seperti buku tulis dan pulpen.

Insiden ini mencuat setelah adanya informasi mengenai tagihan uang sekolah sebesar Rp 1,2 juta yang ditagihkan secara rutin kepada para siswa di sekolah negeri tempat YBR menimba ilmu. Meskipun pihak sekolah menyatakan tidak ada ancaman pengusiran, frekuensi penyampaian informasi tagihan setiap hari saat jam pulang sekolah diduga turut membebani psikis korban.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Ngada, Veronika Milo, menjelaskan bahwa biaya sebesar Rp 1.220.000 tersebut merupakan biaya tahunan yang dapat dicicil. Hingga semester II berjalan, orang tua YBR telah melunasi Rp 500 ribu, meninggalkan sisa tunggakan sebesar Rp 720 ribu.

“Di sekolah itu sistemnya cicil. Pihak sekolah mengumpulkan anak-anak setiap hari saat pulang sekolah untuk menyampaikan pesan kepada orang tua agar mencicil tunggakan tersebut,” ujar Veronika setelah melakukan kroscek langsung ke pihak sekolah dan keluarga pada Selasa (3/2/2026).

Hasil investigasi tim PPA menunjukkan bahwa tidak ditemukan unsur ancaman fisik maupun pengusiran dari pihak sekolah. Namun, pola komunikasi sekolah yang dilakukan secara harian kepada siswa-siswa yang masih di bawah umur menjadi perhatian khusus dalam kasus ini.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih mendalami faktor-faktor lain yang mungkin melatarbelakangi tindakan nekat sang bocah. Kasus ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan dan pengawasan terhadap kesejahteraan mental siswa di daerah. (Amel)

Baca juga :  Macet Horor di Gilimanuk: Antrean Pemudik Mengular hingga 31 Kilometer