SuaraParlemen.id, Jambi – Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi periode 2026–2030 bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Momentum ini menjadi pijakan krusial untuk menguji sejauh mana gagasan kaum intelektual mampu bertransformasi menjadi daya dorong kebijakan nyata bagi perubahan sosial di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

​Dengan mengusung tema “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban”, ISMI Jambi menegaskan komitmennya bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, melainkan wajib ditopang oleh arsitektur nilai dan pengetahuan. Sebagai wadah para cendekiawan berbasis kebudayaan Melayu, ISMI berpotensi besar menjadi kanal utama produksi gagasan yang langsung menyasar ruang kebijakan publik.

​Namun, tantangan terbesar organisasi intelektual saat ini adalah menjauhkan diri dari jebakan rutinitas formalitas. Forum, seminar, dan diskusi tidak boleh berhenti di atas meja, melainkan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang solutif.

​Pembangunan Jambi saat ini bergerak dalam dua wajah. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, namun di sisi lain, ketimpangan manfaat dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan rumah yang menuntut solusi konkret.

​Berdasarkan data makro daerah, terdapat beberapa sektor strategis yang memerlukan intervensi pemikiran dari ISMI Jambi:

  • ​Pertumbuhan Ekonomi & Ketimpangan: Ekonomi Jambi tumbuh sebesar 4,93 persen dengan PDRB mencapai Rp349,66 triliun. Tanpa adanya kedalaman sosial, pertumbuhan ini berpotensi memicu ketimpangan sistemik.
  • ​Kualitas SDM: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jambi menunjukkan perbaikan bertahap di angka 75,13. Namun, peningkatan di sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli tetap harus dikawal ketat.
  • ​Persoalan Stunting: Angka prevalensi stunting nasional berada di 19,8 persen, sementara Jambi masih berkutat di kisaran 18 persen. Kualitas generasi masa depan memerlukan intervensi lintas sektoral secara berkelanjutan.
  • ​Kepadatan Penduduk: Dengan estimasi jumlah penduduk yang mendekati 3,6 hingga 3,7 juta jiwa, dinamika urbanisasi dan mobilitas ekonomi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial.
Baca juga :  Rapat Dengar Pendapat Dinas PMD Kalteng dengan Komisi IV DPRD

​Menghadapi modernisasi, nilai-nilai luhur Melayu seperti musyawarah, gotong royong, dan kesantunan terbukti ampuh bekerja sebagai mekanisme penguat kohesi sosial. Di sinilah dimensi kebudayaan yang dibawa ISMI menemukan urgensinya: menjadikan budaya sebagai instrumen etika sosial yang menopang kehidupan masyarakat modern, bukan sekadar simbol masa lalu.

​Dengan modal keragaman latar belakang keilmuan pengurusnya, ISMI Jambi dapat mengambil peran strategis sebagai mitra kolaboratif pemerintah lewat riset terapan, kajian kebijakan, pendampingan UMKM, hingga penguatan literasi masyarakat.

​Kini, setelah resmi dilantik, ISMI Jambi resmi memasuki ruang ekspektasi publik. Keberhasilan organisasi ini ke depan tidak lagi diukur dari seberapa banyak wacana yang dilemparkan ke media, melainkan dari jejak perubahan nyata yang dapat dirasakan langsung dalam cara masyarakat Jambi berpikir, bekerja, dan berkembang.

​Oleh: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP. (Akademisi UIN STS Jambi).