SuaraParlemen.id, Jambi – Kampus Pinang Masak Universitas Jambi (UNJA) Mendalo menjadi saksi pertemuan penting sejumlah tokoh nasional dan daerah dalam forum bedah buku berjudul “Babad Alas” karya Bima Arya Sugiarto, Rabu (15/4/2024). Buku ini mengupas tuntas perjalanan dedikasi satu dekade Bima Arya saat menjabat sebagai Wali Kota Bogor.
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., Wali Kota Jambi Maulana, Rektor UNJA Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H., serta jajaran civitas akademika lainnya. Menariknya, diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu langsung oleh Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, yang bertindak sebagai moderator.
Rektor UNJA, Prof. Helmi, dalam sambutannya menyatakan rasa bangga atas kehadiran para tokoh pemimpin tersebut. Ia menilai buku Babad Alas merupakan cerminan nyata dari kompleksitas kepemimpinan.
“Istilah ‘Babad Alas’ menggambarkan kondisi awal kepemimpinan yang seperti memasuki rimba belantara; penuh tantangan, konflik, dan dinamika sosial-politik. Ini adalah motivasi berharga bagi mahasiswa untuk memahami realitas dunia kepemimpinan,” ungkap Prof. Helmi.
Dalam paparannya, Bima Arya Sugiarto membagikan refleksi mendalam mengenai perjalanannya. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin tidak boleh diperbudak oleh materi, melainkan harus memiliki arti bagi masyarakat.
Bima juga mengenang masa sulit saat maju dalam Pilkada Kota Bogor dengan dana kampanye yang sangat terbatas. Namun, dengan strategi yang tepat dan tekad kuat, ia berhasil memenangkan kepercayaan rakyat.
“Kalau pemimpin hanya menghitung untung-rugi popularitas, kita tidak akan tahu arah. Pemimpin harus memiliki nilai dan ideologi,” tegas Bima Arya. Ia mengibaratkan perjuangan pemimpin seperti kisah Mahabharata yang penuh dengan pertaruhan prinsip dan integritas.
Wali Kota Jambi, Maulana, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap karya tersebut. Menurutnya, transisi Bima Arya dari seorang akademisi menjadi kepala daerah yang sukses adalah contoh nyata keberanian mengambil peran strategis.
“Buku ini menjadi referensi penting bagi kami para kepala daerah, juga bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Pengalaman beliau menunjukkan bagaimana gagasan akademis diterapkan langsung untuk membawa perubahan nyata di masyarakat,” ujar Maulana.
Acara bedah buku ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menggali lebih dalam tentang pentingnya konsistensi nilai di tengah kompleksitas politik masa kini. (Amel)

