SuaraParlemen.id, Jambi – Tiga kali dalam sepekan, sebuah rumah di kawasan Jambi rutin dikunjungi oleh Coach Noe, seorang praktisi kebugaran sekaligus pendiri Muslim Bugar. Kedatangannya bertujuan untuk mendampingi Pak Zainal (70), seorang lansia penyintas stroke ringan yang tengah berjuang memulihkan kelemahan pada sisi kanan tubuhnya.

​Menggunakan bantuan tongkat, Pak Zainal melangkah perlahan. Bahkan, sekadar untuk bangkit berdiri dari kursi pun membutuhkan usaha dan energi yang tidak sedikit. Namun di balik keterbatasan fisik tersebut, semangat pria berusia senja ini tidak pernah surut.

​Setiap sesi latihan diisi dengan gerakan-gerakan sederhana namun terukur, mulai dari latihan duduk-berdiri, melatih keseimbangan, hingga mengangkat beban ringan. Bagi Pak Zainal, konsistensi ini bukan lagi tentang mengejar penampilan fisik atau estetika, melainkan sebuah ikhtiar besar demi mempertahankan kemandirian hidupnya.

​Coach Noe mengungkapkan bahwa pengalaman mendampingi lansia seperti Pak Zainal memberikan refleksi mendalam mengenai esensi kebugaran yang sesungguhnya. Menurutnya, sehat bukan sekadar memiliki tubuh ideal, melainkan kemampuan fungsional tubuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri hingga usia lanjut.

​”Sering kali masyarakat lebih takut pada kolesterol, gula darah tinggi, atau asam urat. Padahal, ada ancaman tersembunyi yang diam-diam jauh lebih berbahaya, yaitu kehilangan massa dan kekuatan otot, atau yang dikenal medis sebagai sarcopenia,” jelas Coach Noe saat ditemui di sela kegiatannya.

​Secara ilmiah, sarcopenia merupakan kondisi menyusutnya massa serta fungsi otot akibat proses penuaan alami. Berbagai riset menunjukkan bahwa setelah melewati usia 30 tahun, manusia secara natural dapat kehilangan sekitar 3 hingga 8 persen massa otot pada setiap dekade. Fase penurunan ini bahkan berjalan jauh lebih akseleratif ketika seseorang memasuki usia di atas 60 tahun.

Baca juga :  Edukasi Mitigasi Bencana Gempa Megathrust bagi Perempuan Lansia di Daycare Seudati Aisyiyah Banda Aceh

​Hal yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah penurunan kekuatan otot sering kali terjadi lebih cepat dibandingkan dengan penyusutan ukuran luar otot itu sendiri. Akibatnya, seseorang bisa saja terlihat sehat dan bugar secara kasat mata, namun sebenarnya mengalami penurunan fungsi motorik drastis, seperti kesulitan berjalan, naik tangga, mengangkat barang, hingga hilangnya keseimbangan tubuh.

​Data medis menunjukkan komplikasi sarcopenia berkaitan erat dengan melonjaknya risiko jatuh, cedera patah tulang, penurunan kualitas hidup, tingginya angka rawat inap, hingga risiko kematian dini pada kelompok lanjut usia.

​”Otot itu bukan sekadar alat gerak. Otot adalah tabungan kesehatan jangka panjang kita. Semakin banyak massa otot berkualitas yang kita jaga, semakin besar pula cadangan energi, kekuatan, dan daya tahan tubuh kita saat menghadapi penyakit ataupun proses penuaan nanti,” tambah pendiri Muslim Bugar tersebut.

​Lebih lanjut, Coach Noe juga meluruskan persepsi keliru yang berkembang di tengah masyarakat umum mengenai latihan beban (resistance training). Selama ini, latihan beban selalu diidentikkan dengan olahraga binaraga atau aktivitas angkat barbel berat di pusat kebugaran modern.

​Padahal, cakupan latihan beban sesungguhnya sangat luas dan dekat dengan keseharian. Aktivitas fungsional sederhana seperti berdiri-duduk berulang dari kursi, naik-turun tangga rumah, mengangkat galon air, membawa tas belanjaan, menggunakan karet resistensi (resistance band), hingga melakukan gerakan push-up di dinding sudah termasuk ke dalam bentuk latihan beban yang efektif.

​”Tubuh manusia tidak memedulikan apakah beban itu berasal dari alat fitness yang mahal atau dari berat badannya sendiri. Yang dikenali oleh sistem biologis tubuh hanyalah adanya stimulus atau tekanan pada otot agar jaringan tersebut terus bertahan dan berkembang,” tegasnya.

Baca juga :  Rapat Dengar Pendapat Dinas PMD Kalteng dengan Komisi IV DPRD

​Hingga saat ini, belum ada satu pun zat kimia, obat, suplemen, maupun metode instan yang terbukti mampu menggantikan efektivitas latihan beban dalam menjaga massa otot. Pola nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup memang memegang peranan krusial, tetapi secara biologis tubuh hanya akan mempertahankan jaringan otot yang digunakan secara aktif. Prinsip dasarnya sangat sederhana: use it or lose it (gunakan atau Anda akan kehilangannya).

​Kendati demikian, dunia medis membawa kabar baik. Berbagai studi klinis membuktikan bahwa latihan beban tetap memberikan dampak positif yang signifikan meskipun baru dimulai pada usia lanjut. Tubuh manusia dianugerahi kemampuan adaptasi yang luar biasa (neuroplasticity dan adaptasi otot) sepanjang hayat.

​Kondisi inilah yang dibuktikan secara nyata oleh Pak Zainal dalam setiap sesi latihannya di Jambi.

​”Pak Zainal tidak sedang mengejar target bentuk tubuh (body goals). Beliau sedang memperjuangkan kemerdekaan atas tubuhnya sendiri. Setiap repetisi gerakan yang beliau lakukan adalah investasi berharga agar esok hari tetap bisa berdiri, berjalan, dan menjalani sisa hidup tanpa harus bergantung pada orang lain,” tutur Coach Noe dengan penuh apresiasi.

​Melalui gerakan Muslim Bugar System, Coach Noe gencar mengajak masyarakat luas untuk mulai menyejajarkan latihan beban sebagai kebutuhan primer kesehatan, setara dengan pentingnya menjaga pola makan dan jam tidur yang berkualitas. Edukasi ini berfokus pada pembangunan fondasi kebugaran yang berkelanjutan melalui peningkatan massa otot secara bertahap, penerapan pola makan yang realistis, serta pembentukan kebiasaan sehat yang dapat diintegrasikan dengan mudah dalam aktivitas sehari-hari.

​”Pada akhirnya, kita tidak berlatih beban hanya untuk terlihat kuat di mata orang lain. Kita berlatih beban agar kita tetap mampu mandiri dan berdaya saat usia tidak lagi berpihak pada kita. Karena tubuh yang kuat bukanlah sebuah kemewahan ragawi, melainkan alat perjuangan serta amanah yang Allah titipkan kepada setiap manusia,” pungkas Coach Noe menutup perbincangan.