SuaraParlemen.id, Jakarta – Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian menegaskan bahwa pelaksanaan Survei Investigasi dan Desain (SID) pada Program Optimasi Lahan (Oplah) di Provinsi Jambi tahun 2025 telah berjalan sesuai mekanisme. Penegasan ini sekaligus menepis isu ketidaksinkronan data yang beredar di masyarakat.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menyatakan bahwa pelaksanaan SID di Jambi telah disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan serta melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
“Pelaksanaan SID di Jambi sudah sesuai dengan mekanisme nasional. Kami melibatkan universitas sebagai pelaksana penyusunan SID untuk memastikan akurasi data sesuai karakteristik wilayah,” ujar Hermanto di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Capaian Signifikan di Lapangan
Secara nasional, program Oplah menargetkan luas lahan mencapai 500 ribu hektare. Di Provinsi Jambi sendiri, progres fisik menunjukkan angka yang menggembirakan. Saat ini, pengerjaan konstruksi telah mencapai 81 persen, sementara kegiatan olah tanah menyentuh angka 72 persen.
Meski menghadapi tantangan cuaca dan curah hujan, pemerintah optimistis program ini akan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi secara signifikan.
“Target kita adalah meningkatkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200, bahkan hingga IP 300. Ini kunci untuk memperkuat produksi padi nasional,” tambah Hermanto.
Sinergi Pusat dan Daerah
Senada dengan pusat, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi, Ir. Rumusdar, memastikan seluruh tahapan di wilayahnya patuh pada Petunjuk Teknis (Juknis) nasional. Ia membantah kabar adanya ketidaksinkronan dalam pelaksanaan program.
“Kami rutin melakukan koordinasi dan konsolidasi teknis. Jadi tidak benar jika dikatakan pelaksanaan SID tidak sinkron. Kami menjalankan ketentuan yang berlaku secara nasional,” tegas Rumusdar.
Pemerintah terus mendorong sinergi antara tim teknis, penyuluh, dan petani guna memastikan kelancaran program. Koordinasi rutin menjadi instrumen utama untuk mengawal agar optimalisasi luas tanam ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani di Jambi. (Amel)

