SuaraParlemen.id, Jakarta – Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik dalam waktu dekat, meskipun harga minyak mentah dunia terus merangkak naik. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih cukup kuat untuk menahan gejolak pasar global.

“APBN kita masih tahan. Saya tidak akan mengubah postur APBN atau subsidi BBM sampai titik harga minyak benar-benar sangat tinggi,” ujar Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, (26/3/2026).

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi risiko jika harga minyak melonjak hingga US$ 97 per barel—jauh di atas asumsi awal APBN sebesar US$ 70 per barel. Untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen dari PDB, pemerintah menyiapkan berbagai instrumen mulai dari optimalisasi penerimaan negara hingga efisiensi belanja kementerian dan lembaga.

Salah satu langkah efisiensi yang menjadi sorotan adalah penyesuaian pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mempertimbangkan untuk mengurangi frekuensi pelaksanaan program dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan.

“Efisiensi ini berpotensi menghemat anggaran sekitar Rp 40 triliun. Yang penting efisiensi ada, dan anak sekolah tetap mendapatkan asupan makan yang cukup,” tegas Purbaya.

Selain penghematan belanja, pemerintah juga berfokus meningkatkan penerimaan dari sektor komoditas dan penyesuaian kebijakan bea ekspor guna mempertebal bantalan fiskal. Purbaya menepis kekhawatiran mengenai darurat energi, karena menurutnya gangguan saat ini bukan pada ketersediaan pasokan (supply).

Ia menambahkan, struktur ekonomi Indonesia yang didominasi oleh sektor swasta menjadi penopang stabilitas nasional, di mana belanja pemerintah hanya berkontribusi sekitar 10 persen terhadap PDB. “Semua kemungkinan sudah kita hitung. Bantalan fiskal kita masih sangat cukup,” pungkasnya. (Amel)

Baca juga :  Percepat Perbaikan 3.000 Faskes di Sumatera, DPR RI Minta Pemerintah Segera Realisasikan Anggaran Rp529 Miliar