SuaraParlemen.id, Jakarta – Gaya hidup kurang bergerak atau sedentary lifestyle kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat modern, terutama para pekerja kantoran. Kumpulan masalah kesehatan yang dipicu akibat terlalu lama duduk atau kurang bergerak selama lebih dari 6 hingga 8 jam per hari ini dikenal secara medis sebagai sitting disease.

Ketika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk, sistem metabolisme tubuh akan melambat secara drastis. Hal ini menyebabkan penurunan pembakaran kalori, serta membuat gula darah dan lemak menjadi lebih sulit diproses oleh tubuh. Tidak hanya itu, otot-otot besar di bagian kaki dan bokong secara perlahan menjadi tidak aktif, yang berakibat pada melemahnya otot inti (core muscles) serta memburuknya postur tubuh. Dampak fisik lainnya meliputi melambatnya aliran darah yang memicu risiko pembekuan darah di area kaki, hingga tekanan berlebih pada tulang belakang dan leher yang menyebabkan nyeri punggung kronis.

Dokter dan para ahli kesehatan memperingatkan bahwa sitting disease secara signifikan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular yang mematikan. Di antaranya adalah obesitas akibat penumpukan lemak, diabetes tipe 2 karena menurunnya sensitivitas insulin, serta penurunan kualitas tekanan darah dan kolesterol yang memicu penyakit jantung.

Kondisi fatal lain seperti Deep Vein Thrombosis (DVT) atau tersumbatnya pembuluh darah kaki, hingga risiko kanker tertentu seperti kanker usus besar, payudara, dan endometrium juga mengintai akibat kebiasaan ini. Dari sisi kesehatan mental, minimnya pergerakan fisik terbukti menurunkan produksi hormon dopamin dan serotonin, sehingga memicu gangguan kecemasan hingga depresi.

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan untuk menerapkan pola pencegahan aktif demi memutus rantai “mode hemat energi” tubuh yang merusak ini. Salah satu metode paling efektif adalah menerapkan Aturan 30-30, yaitu menyelingi setiap 30 menit waktu duduk dengan berdiri atau bergerak selama 30 detik hingga 2 menit. Selain itu, penggunaan meja berdiri (standing desk), melakukan peregangan (stretching) ringan pada bahu dan leher setiap jam, serta melakukan gerakan jinjit (calf raises) sebanyak 10–20 kali di sela waktu luang sangat dianjurkan untuk membantu memompa darah kembali ke jantung.

Baca juga :  Kuliah Umum KAMMI: Fahrul Ilmi Ajak Pemuda Jadi Pemimpin Tangguh

Pemerintah dan pakar kesehatan juga tetap menyarankan target gerak minimal melalui aktivitas olahraga intensitas sedang, seperti jalan kaki, dengan total waktu 150 menit per minggu.

Bagi Anda para pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktu di depan laptop, menjaga tubuh tetap bergerak adalah sebuah keharusan. Untuk memulainya, Anda dapat mencoba tiga gerakan sederhana berdurasi 2 menit yang bisa dilakukan langsung di meja kerja, yaitu gerakan squat, jinjit, serta dips. Langkah kecil ini diharapkan mampu menjaga sistem tubuh tetap berfungsi optimal dan terhindar dari bahaya jangka panjang sitting disease. (Kjp)