SuaraParlemen.id, Aceh Besar – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar, Rahmawati, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pengawas sekolah memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Kabupaten Aceh Besar. Hal ini menyusul adanya temuan penurunan indikator mutu pendidikan di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Penegasan tersebut disampaikan Rahmawati saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pengawas Sekolah di SMP Negeri 1 Peukan Bada, (8/5/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Disdikbud Aceh Besar dengan BPMP Aceh.
“Pengawas adalah garda terdepan. Bapak Bupati dan Wakil Bupati memiliki visi besar untuk mengubah wajah pendidikan kita, terutama dalam meningkatkan mutu yang sempat mengalami penurunan,” ujar Rahmawati.
Evaluasi Kepemimpinan: Ada Kepala Sekolah Menjabat 25 Tahun
Dalam arahannya, Rahmawati juga mengungkap rencana besar terkait penyegaran manajemen sekolah. Ia menyoroti adanya ketidakefektifan masa jabatan kepala sekolah yang melampaui batas aturan.
“Kami menemukan ada kepala sekolah yang sudah menjabat hingga 25 tahun, padahal aturan maksimal hanya delapan tahun. Ke depan, kita akan lakukan penyegaran secara profesional dan objektif. Jika memang belum mampu, jangan dipaksakan,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar kini mulai mengalihkan prioritas anggaran dari pembangunan fisik semata menuju peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Strategi ini mencakup:
- Peningkatan Kapasitas: Alokasi dana lebih besar untuk pelatihan guru, pengawas, dan operator sekolah.
- Transformasi Digital: Pengawas diminta mendampingi guru dalam mengadopsi sistem pembelajaran berbasis teknologi modern.
- Pendidikan Karakter: Penguatan program prioritas “Beut Al-Qur’an dan Beut Kitab Bak Sikula” untuk mengintegrasikan pendidikan agama di sekolah umum.
Rahmawati mengajak seluruh pengawas untuk bekerja secara profesional dan objektif sesuai dengan delapan Standar Nasional Pendidikan. “Mari bekerja dengan hati. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tapi akan dirasakan oleh generasi Aceh Besar 20 tahun ke depan,” pungkasnya. (Amel)

