SuaraParlemen.id, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah hingga kini belum berencana menambah alokasi anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah ini diambil karena pemerintah masih terus mencermati fluktuasi harga minyak mentah global yang terdampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Bahlil menjelaskan, meski harga minyak mentah sempat menembus angka US$ 100 per barel akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, pergerakannya saat ini masih sangat dinamis. Secara rata-rata, harga minyak dari awal tahun hingga saat ini dianggap masih berada dalam batas aman.

“Sampai dengan sekarang, kita belum menghitung secara pasti tentang kenaikan subsidi. Harga minyak sempat turun lagi di bawah US$ 100 per barel. Nanti kita lihat dan exercise perkembangannya,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jum’at (13/3/2026).

Hingga saat ini, harga minyak dunia masih berada di bawah asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN 2026, yakni sebesar US$ 70 per barel. Padahal, sebelumnya harga sempat melonjak di kisaran US$ 80 hingga US$ 112 per barel.

Situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi seperlima pasokan minyak global, turut menjadi perhatian serius. Gangguan pada jalur ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga energi yang lebih ekstrem dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Sebagai informasi, dalam APBN 2026, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 210,1 triliun untuk subsidi energi yang meliputi BBM, LPG 3 kilogram, dan listrik. Anggaran ini meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 203,41 triliun, demi menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian pasar global. (Amel)

Baca juga :  Anggaran Motor Listrik BGN Rp1,05 Triliun Jebol, Menkeu Purbaya Sebut Sistem 'Kecolongan'