SuaraParlemen.id, Jakarta – Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menembus angka fantastis sebesar US$1 triliun atau setara Rp16.900 triliun pada tahun fiskal berjalan hingga Februari 2026. Meskipun angka ini terlihat sangat besar, data Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa nilai tersebut sebenarnya mengalami penurunan sekitar 12% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, (13/3/2026).

Penurunan defisit secara kumulatif ini terjadi karena pertumbuhan penerimaan pemerintah AS yang lebih cepat dibandingkan kenaikan belanja negara. Salah satu kontributor utamanya adalah lonjakan pendapatan dari tarif impor yang mencapai US151 miliar (sekitar Rp2.552 triliun) dalam lima bulan pertama tahun fiskal. Angka ini melonjak tajam dari US113 miliar pada tahun lalu, bahkan kini telah melampaui pendapatan dari pajak perusahaan—sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam struktur fiskal AS.

Namun, beban fiskal pemerintah AS tetap berat akibat tingginya suku bunga. Pembayaran bunga bersih atas utang nasional AS yang hampir menyentuh US39 triliun mencapai US79 miliar (Rp1.335 triliun) hanya pada bulan Februari saja. Nilai ini menjadi salah satu pengeluaran terbesar pemerintah setelah program Jaminan Sosial dan layanan kesehatan.

Jika dibandingkan dengan kondisi di tanah air, angka defisit AS tersebut tampak sangat kontras. Sebagai gambaran, defisit fiskal Indonesia pada dua bulan pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp135 triliun. Bahkan, total defisit anggaran AS saat ini jauh melampaui seluruh nilai belanja negara dalam APBN Indonesia tahun 2026 yang berjumlah Rp3.842 triliun.

Situasi ekonomi AS saat ini juga dibayangi ketidakpastian setelah keputusan Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Meski demikian, penerapan tarif baru oleh Trump setelah putusan tersebut berpotensi terus memengaruhi dinamika penerimaan bea cukai di masa mendatang. (Amel)

Baca juga :  Airlangga Tegaskan Anggaran Makan Bergizi Gratis Aman dari Pemangkasan APBN