SuaraParlemen.id, Jambi – Teka-teki pelarian dana nasabah Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi yang dibobol peretas akhirnya mulai menemui titik terang. Gubernur Jambi, Al Haris, mengungkapkan bahwa dari total kerugian sebesar Rp 143 miliar, tim penyidik berhasil mendeteksi aliran dana sebesar Rp 19 miliar yang dilarikan ke aset kripto (crypto).

“Terdeteksi ada Rp 19 miliar di crypto, kemudian ada juga yang mengalir ke Bank Permata dan Bank Sampoerna,” ujar Al Haris saat memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (12/3/2026) malam.

Guna menyelamatkan dana tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah penarikan kembali (recovery) sedang diupayakan agar kerugian yang dialami ribuan nasabah dapat diminimalisir.

Di sisi lain, Polda Jambi melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) terus mendalami kasus peretasan yang menguras saldo lebih dari 6.000 rekening nasabah ini. Kombes Pol Taufik Nurmandia menyatakan bahwa pihaknya kini menjalin komunikasi intensif dengan Bareskrim Polri untuk mengusut tuntas otak di balik serangan siber ini.

Layanan Lumpuh, Nasabah Antre Sejak Subuh

Dampak dari serangan yang terjadi sejak Minggu (22/2/2026) ini sangat dirasakan masyarakat. Akses mobile banking dan ATM Bank Jambi telah diblokir selama 14 hari terakhir demi alasan keamanan.

Kondisi ini memaksa nasabah melakukan transaksi secara manual. Di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Thehok, antrean mengular bahkan sebelum matahari terbit. Seorang pensiunan ASN mengaku terpaksa datang tepat setelah sahur demi mendapatkan nomor antrean yang sangat terbatas.

“Tadi jam setengah enam sudah di sini, ternyata sudah banyak yang menunggu sejak jam 5 pagi,” keluhnya.

Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sedang fokus memenuhi instrumen keamanan yang diminta oleh otoritas. “Evaluasi sistem IT dilakukan secara menyeluruh dan holistik. Kami menargetkan layanan kembali normal sebelum masa cuti bersama Idul Fitri,” jelas Zulfikar.

Baca juga :  AS Kirim Ribuan Pasukan Elite ke Timur Tengah, Opsi Operasi Darat ke Iran Menguat

Berdasarkan data yang dihimpun, kerugian nasabah perorangan diperkirakan bervariasi antara Rp 17 juta hingga Rp 24 juta per orang. Pihak bank berkomitmen untuk terus meningkatkan sistem keamanan siber guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan. (Amel)