SuaraParlemen.id, Jakarta – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (Rabu WIB), menyusul laporan kemajuan signifikan dalam pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik ini meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik terbuka di Timur Tengah.

Rabu (18/2/2026), harga minyak mentah AS (WTI) ditutup melemah 56 sen atau 0,89% ke level USD 62,33 per barel. Sementara itu, patokan global minyak mentah Brent merosot lebih dalam sebesar USD 1,23 atau 1,79% dan bertengger di harga USD 67,42 per barel.

Kesepakatan di Jenewa Jadi Pemicu

Sentimen negatif bagi harga minyak ini dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebutkan bahwa Iran dan AS telah mencapai kesepakatan umum mengenai prinsip-prinsip panduan dalam pembicaraan di Jenewa.

Araghchi menggambarkan dialog tersebut sebagai pertemuan yang “serius dan konstruktif”. Kabar ini memberikan angin segar bagi stabilitas kawasan, meskipun tensi antara kedua negara sebelumnya sempat memanas akibat ancaman Presiden Donald Trump terkait program nuklir Republik Islam tersebut.

Ketegangan di Selat Hormuz

Di sisi lain, pasar tetap waspada mengingat Iran baru saja menggelar latihan perang di Selat Hormuz pada hari yang sama. Jalur perdagangan ini sangat vital bagi pasokan energi internasional karena menjadi lintasan bagi sepertiga ekspor minyak mentah jalur laut global.

Menurut laporan kantor berita Tasnim, lalu lintas di selat tersebut sempat terhenti selama beberapa jam saat Garda Revolusi Iran mengadakan latihan angkatan laut. Pihak Garda Revolusi bahkan menegaskan kesiapan mereka untuk menutup jalur strategis tersebut jika menerima perintah.

Meskipun terdapat unjuk kekuatan militer di lapangan, progres meja diplomasi di Jenewa terbukti lebih dominan dalam mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia saat ini. (Amel)

Baca juga :  PBB Selidiki Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon, Hasilnya Segera Diumumkan