SuaraParlemen.id, Jambi – Sinar (46), seorang petani sayur di RT 35 Kelurahan Paal Merah, Kota Jambi, kini hanya bisa terbaring lemah. Tumor parotis yang tumbuh di lengan kiri sejak dua tahun terakhir telah merenggut tenaganya untuk mencangkul, sekaligus memutus sumber penghidupannya.
Awalnya, benjolan di bahu Sinar dianggap hanya mata ikan atau bentol biasa yang sering terasa gatal. Namun, kondisi tersebut memburuk sejak Desember 2025. “Dulu masih hilang timbul, tapi dua tahun terakhir membesar. Pas dicek dokter, ternyata tumor parotis,” tutur Sinar pada Jumat (6/2/2026).
Rasa sakit yang hebat kini membuatnya tak lagi mampu mengolah lahan milik orang lain yang biasa ditanami kangkung dan seledri. Untuk pengobatan, Sinar telah dirujuk dari RS Bhayangkara ke RS Raden Mattaher, hingga akhirnya harus menjalani operasi pengangkatan tumor di RS Dharmais, Jakarta, yang direncanakan berlangsung hingga April 2026.
Namun, kendala biaya membayangi keberangkatannya. Meski Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menyatakan akan menanggung biaya operasi, sistem pembayaran dilakukan secara reimburse atau dibayar setelah tindakan selesai. “Dinkes katanya akan ganti, tetapi untuk di awal pakai uang sendiri dulu. Saya tidak punya,” keluhnya.
Di tengah kondisinya yang kian memprihatinkan, Sinar hidup sebatang kara di rumah kayu tua peninggalan orang tuanya di pinggiran Bandara Sultan Thaha Jambi. Sejak bercerai, ia hanya mengandalkan bantuan dari keluarga sekitar dan dermawan untuk makan sehari-hari. Meski sempat menerima bantuan sosial sebesar Rp900 ribu pada tahun 2025, bantuan tersebut belum cukup untuk menutupi biaya akomodasi pengobatan ke Jakarta.
Kini, harapan Sinar bergantung pada uluran tangan pihak-pihak dermawan agar ia bisa segera berangkat ke Jakarta demi kesembuhan dan kembali menyambung hidup sebagai petani. (Amel)

