SuaraParlemen.id, Surabaya – Sebanyak 200 siswa dari 12 sekolah tingkat TK hingga SMP di Surabaya dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden medis massal ini memicu reaksi keras dari legislatif yang meminta pengawasan ketat terhadap program nasional tersebut.
Anggota DPRD Kota Surabaya, Johari Mustawan, menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan pelajar harus menjadi prioritas yang tidak dapat ditawar. Ia meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang maksimal.
“Kejadian ini sangat memprihatinkan dan tidak boleh dianggap sepele. Kami mendesak investigasi menyeluruh mulai dari kualitas bahan baku, higienitas dapur, hingga mekanisme distribusinya,” ujar pria yang akrab disapa Bang Jo ini kepada media, Senin (11/5).
Politisi tersebut menekankan pentingnya evaluasi terbuka dan transparansi hasil laboratorium kepada publik. Hal ini diperlukan untuk mengungkap penyebab pasti gangguan kesehatan yang menimpa ratusan siswa tersebut.
Meskipun mendukung penuh program pemenuhan gizi anak sekolah, Bang Jo memperingatkan agar pengawasan kualitas makanan tidak lengah. Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak dalam mengelola program pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan anak-anak.
“Jangan sampai niat baik untuk meningkatkan gizi justru membahayakan kesehatan siswa. Semoga anak-anak yang terdampak segera pulih dan dapat kembali beraktivitas,” pungkasnya.

