SuaraParlemen.id, Aceh – Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Gayo masih menjaga salah satu tradisi leluhur yang sarat makna, yakni Gegaluh. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur setelah musim panen padi usai, sekaligus menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam.

Salah satu bukti pelestarian tradisi tersebut masih dapat ditemukan di Kampung Tampeng Musara, Kecamatan Kutapanjang. Di sana, sebuah jingki atau alat penumbuk padi tradisional yang dibuat pada tahun 1990 oleh H. Lapandi Am. Bakar masih dirawat dan digunakan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Gayo, Gegaluh bukan sekadar pesta setelah panen. Tradisi ini menjadi penutup dari rangkaian panjang aktivitas bercocok tanam yang dimulai dari mengolah sawah, menanam, merawat hingga memanen padi. Seluruh proses itu dilakukan secara gotong royong atau panglo, sehingga keberhasilan panen dipandang sebagai hasil kerja bersama yang patut disyukuri.

Kata Gegaluh berasal dari istilah geguluh yang berarti ramai, berkumpul, dan bersuka cita. Filosofinya adalah mengucapkan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan, kepada tanah yang telah menghasilkan panen, serta kepada sesama yang saling membantu sejak awal musim tanam hingga panen selesai.

Tradisi Gegaluh diawali dengan prosesi Mepelus Beras Baru, yakni padi pertama hasil panen tidak langsung dijual, melainkan ditumbuk menggunakan jingki atau lesung hingga menjadi beras. Beras tersebut kemudian dimasak menjadi nasi pertama sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil panen.

Setelah itu, masyarakat menggelar kenduri syukur yang dihadiri warga kampung. Berbagai hidangan tradisional seperti ayam kampung, ikan pengat, sayur pakis, sambal, dan nasi dari beras baru disajikan. Acara diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh.

Baca juga :  Syukri, Ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Tengah Jadi Pembina Upacara di SMA Negeri 8 Takengon

Tradisi kemudian dilanjutkan dengan sedekah hasil bumi, yakni menyisihkan sebagian hasil panen untuk dibagikan kepada anak yatim, janda, lansia, serta warga yang tidak memiliki lahan pertanian. Nilai berbagi tersebut diyakini menjadi sumber keberkahan bagi seluruh masyarakat.

 

Usai prosesi adat dan doa bersama, suasana berubah menjadi lebih meriah melalui berbagai hiburan rakyat. Kesenian khas Gayo seperti Didong, Tari Guel, hingga Tari Saman dipentaskan. Anak-anak muda memainkan musik tradisional, sementara para tetua kampung berbagi cerita dan petuah kepada generasi penerus.

Di balik kemeriahan tersebut, Gegaluh menyimpan filosofi yang mendalam. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghargai setiap proses kehidupan, mempererat silaturahmi, membiasakan hidup hemat dengan menyimpan sebagian hasil panen untuk musim tanam berikutnya, serta menjaga warisan adat agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Para tetua adat Gayo juga mewariskan pesan sederhana namun penuh makna kepada anak cucunya.

“Jika panen melimpah jangan menjadi sombong, dan jika hasil panen sedikit jangan berputus asa. Sebab rezeki tetap menjadi urusan Tuhan.”

Bagi masyarakat Gayo, Gegaluh bukan hanya perayaan panen. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kerja keras manusia, tetapi juga karena rahmat Tuhan, kesuburan alam, dan kebersamaan sesama. Nilai-nilai itulah yang membuat Gegaluh tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang terus dijaga hingga kini. (Kjp)