SuaraParlemen.id, Jakarta – Partai-partai baru masih menghadapi tantangan besar untuk merebut hati pemilih milenial. Hal itu tergambar dalam hasil survei media online yang dirilis Netralboks pada Juni 2026. Berdasarkan survei tersebut, partai-partai baru belum mampu bersaing dengan partai-partai lama yang masih mendominasi preferensi pemilih dari kalangan generasi milenial.
Dalam infografis yang dipublikasikan Netralboks, PDI Perjuangan (PDIP) menempati posisi teratas dengan tingkat keterpilihan sebesar 20,2 persen. Posisi kedua ditempati Partai Gerindra dengan 15,7 persen, disusul PKB sebesar 9,6 persen, Partai Golkar 9,3 persen, dan PKS 8,5 persen.
Sementara itu, Partai NasDem memperoleh 7,9 persen, PAN 7,2 persen, Partai Buruh 6,7 persen, PPP 1,6 persen, PSI 1,3 persen, dan Partai Perubahan (Feiveca) 0,9 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa dominasi partai-partai yang telah lama berkiprah di panggung politik nasional masih cukup kuat di kalangan pemilih milenial. Di sisi lain, partai-partai baru belum mampu membangun tingkat popularitas dan elektabilitas yang signifikan untuk menyaingi partai-partai mapan.
Pengamat politik menilai, generasi milenial cenderung mempertimbangkan rekam jejak, konsistensi program, serta kedekatan dengan isu-isu yang mereka hadapi, seperti lapangan kerja, pendidikan, ekonomi digital, dan kesejahteraan. Faktor-faktor tersebut menjadi tantangan bagi partai baru untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Meski demikian, hasil survei ini tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk memprediksi hasil pemilu mendatang. Preferensi politik masyarakat dapat berubah seiring dinamika politik nasional, kinerja partai, maupun munculnya isu-isu strategis yang berkembang menjelang tahapan pemilu.
Catatan Redaksi: Infografis yang beredar mencantumkan sumber “Media Online (Juni 2026)” melalui Netralboks, namun tidak memuat informasi mengenai jumlah responden, metode pengambilan sampel, margin of error, maupun cakupan wilayah survei. Karena itu, hasil survei ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran preferensi berdasarkan metodologi yang digunakan penyelenggara survei dan tidak serta-merta mewakili seluruh populasi pemilih Indonesia.
Redaksi suaraparlemen.id membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh partai politik maupun pihak penyelenggara survei apabila terdapat data atau informasi tambahan terkait hasil survei tersebut. (Tim)


