SuaraParlemen.id, Jambi – Hari Adat Melayu Jambi jangan hanya dipandang sebagai momentum seremonial tahunan yang berpusat pada pakaian adat atau pertunjukan seni. Lebih dari itu, hari bersejarah ini merupakan ruang krusial untuk meneguhkan kembali falsafah luhur “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” di tengah derasnya arus modernisasi global.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi, Dr. Fahmi Rasid. Menurutnya, masyarakat Jambi saat ini dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap adaptif menjadi modern tanpa kehilangan jati diri dan akar budaya.

Sinergi Adat dan Syarak: Fondasi yang Saling Menyempurnakan

​Falsafah “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” bukan sekadar untaian kata indah, melainkan kompas kehidupan masyarakat Jambi yang meletakkan hukum adat dan agama dalam satu koridor yang harmonis.

​”Adat memberikan bentuk, sementara syarak memberikan ruh. Adat mengatur tata kehidupan sosial, sedangkan syarak memberikan arah agar kehidupan tetap berada dalam koridor ketuhanan,” ujar Fahmi Rasid.

​Secara historis, Islam masuk ke bumi Jambi melalui jalur damai dan akulturasi yang bijaksana. Para ulama tidak menghapus tradisi lokal yang sudah hidup di sepanjang Sungai Batanghari, melainkan menyempurnakannya. Tradisi yang baik dipertahankan, sementara yang menyimpang diperbaiki.

​Prinsip ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 mengenai esensi menghargai keberagaman suku dan bangsa, serta misi Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

​Kekayaan budaya Melayu Jambi tercermin kuat dalam laku hidup sehari-hari—mulai dari budaya musyawarah, gotong royong, hingga kesantunan bertutur kata seperti petuah: “Yang tua dihormati, yang kecil disayangi, yang sebaya dihargai.”

​Namun, di era digital ini, nilai-nilai tersebut mulai mendapat tantangan serius. Fahmi mengingatkan adanya fenomena pergeseran sosial yang mengkhawatirkan di ruang siber:

  • ​Budaya musyawarah perlahan tergeser oleh saling serang di media sosial.
  • ​Sikap gotong royong mulai terkikis oleh ego individualisme.
  • ​Bahasa yang santun kerap tergantikan oleh ujaran kasar dan tidak beretika.
Baca juga :  Sosialisasi 4 Pilar di Langsa, Nasir Djamil Tekankan Kedaulatan Rakyat dan Persatuan Jelang Ramadhan

​”Jika adat hanya dijadikan simbol seremonial tanpa ditanamkan nilainya kepada generasi muda, maka yang tersisa hanyalah pakaian adat dan pertunjukan budaya tanpa ruh,” tegasnya.

​Upaya menjaga adat istiadat di Jambi sejatinya telah mendapat jaminan hukum yang kuat dari negara. Konstitusi melalui Pasal 18B Ayat (2) UUD NRI 1945 secara tegas mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya.

​Di tingkat daerah, komitmen ini diperkuat lewat regulasi lokal dan eksistensi Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi. LAM tidak hanya berfungsi sebagai pelestari tradisi, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam membangun harmoni sosial serta menyelesaikan berbagai konflik di masyarakat.

Saatnya Hijrah Budaya: Dari Seremoni Menuju Substansi

​Menariknya, peringatan Hari Adat Melayu Jambi tahun ini berdekatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Kedekatan waktu ini menjadi sinyal simbolik bagi seluruh masyarakat Jambi untuk segera melakukan “hijrah budaya.”

​Fahmi mengajak generasi muda Jambi untuk beralih dari sekadar kebanggaan visual menuju pengamalan nilai nyata.

  • ​Hijrah dari sekadar bangga memakai pakaian adat menuju kebanggaan mengamalkan nilai adat.
  • ​Hijrah dari sekadar mengenang kejayaan masa lalu menuju penciptaan kejayaan Melayu di masa depan.
  • ​Hijrah dari mempertontonkan budaya menuju membangun peradaban.

​Generasi muda Melayu Jambi dituntut untuk tampil sebagai kreator, akademisi, pengusaha, dan pemimpin yang menguasai teknologi, namun tetap memiliki akar moralitas yang kuat.

​Sebagai penutup, adat Melayu Jambi harus diletakkan sebagai fondasi yang kokoh agar masyarakat tidak terombang-ambing oleh perubahan zaman. Dengan bimbingan syarak, adat akan terus tumbuh menjadi kekuatan sosial yang membawa kemuliaan.

​Sebagaimana petuah lama yang terus berdengung: “Tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas.” Begitulah nilai-nilai luhur Melayu Jambi seharusnya terus hidup, relevan, dan diwariskan dengan bangga dari generasi ke generasi.