SuaraParlemen.id, Jambi – Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus melemah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2026, masyarakat diajak untuk mengubah paradigma dalam memandang arti kesejahteraan. Fenomena lipstick effect yang marak belakangan ini dinilai menjadi alarm bahwa masyarakat mulai berburu kenyamanan emosional di tengah himpitan ekonomi.
Merespons kondisi tersebut, Muhammad Nor, SE, AIFO-FIT, seorang praktisi kebugaran Islami sekaligus mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAI SEBI, menawarkan sebuah sudut pandang baru yang ia sebut sebagai ‘Formula KAYA’. Pria yang akrab disapa Coach Noe ini mengajak publik untuk tidak terjebak dalam kecemasan finansial semata.
”Saat ekonomi sedang tidak pasti, banyak orang takut menjadi miskin. Tetapi saya justru bertanya, apakah selama ini kita benar-benar memahami apa itu kaya?” ujar Coach Noe saat diwawancarai di Jambi.
Menurut Coach Noe, fenomena lipstick effect membuktikan bahwa perilaku ekonomi manusia tidak melulu soal angka dan uang, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan harapan masa depan. Oleh karena itu, ia menilai masyarakat harus mulai melihat modal hidup secara lebih luas, tidak hanya terpaku pada aspek finansial (Financial Capital).
Lima Modal Utama Kehidupan
Dalam kajian ekonomi modern yang digagasnya, Coach Noe menjelaskan terdapat lima modal utama yang menentukan kualitas hidup seseorang:
- Modal Finansial (Financial Capital)
- Modal Manusia (Human Capital)
- Modal Kesehatan (Health Capital)
- Modal Sosial (Social Capital)
- Modal Kepercayaan (Trust Capital)
Ia menyayangkan kecenderungan masyarakat saat ini yang terlalu fokus mengejar modal finansial, namun mengabaikan empat fondasi lainnya.
”Uang bisa habis, tapi ilmu (Human Capital) bisa menghasilkan uang lagi. Kalau uang berkurang tetapi kesehatan (Health Capital) baik, produktivitas bisa ditingkatkan. Kalau uang hilang tetapi kepercayaan (Trust Capital) tetap ada, peluang baru akan terus muncul,” jelas pengelola Jambi Bugar Gym tersebut.
Mengenal Formula KAYA
Sebagai solusi konkret menghadapi gejolak ekonomi, Coach Noe merumuskan konsep sederhana yang aplikatif, yaitu Formula KAYA:
- K – Knowledge (Ilmu): Meningkatkan kapasitas diri untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
- A – Attitude (Karakter): Membentuk ketahanan kepribadian dalam menghadapi tantangan.
- Y – Yielding Value (Menciptakan Nilai): Kemampuan untuk terus relevan dan dibutuhkan oleh pasar.
- A – Amanah (Integritas): Membangun kepercayaan yang menjadi fondasi utama hubungan ekonomi jangka panjang.
”Pasar tidak membayar kita karena kita sibuk atau lelah bekerja. Pasar menghargai nilai (value) yang kita berikan kepada orang lain,” tegasnya.
Selaras dengan Maqasid Al-Shariah
Konsep ini, lanjut Coach Noe, sangat sejalan dengan prinsip Maqasid Al-Shariah dalam ekonomi Islam. Dalam pandangan Islam, kekayaan finansial bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar sarana untuk mewujudkan kemaslahatan hidup.
Ia menambahkan, seseorang bisa saja bergelimang harta namun sebenarnya “miskin” karena tidak memiliki ilmu, kesehatan, atau integritas. Sebaliknya, orang yang saat ini ekonominya masih sederhana bisa jadi jauh lebih kaya karena sedang berinvestasi membangun reputasi, jaringan, dan keahlian untuk masa depan.
Di akhir refleksinya, pendiri platform Muslim Bugar ini menyampaikan pesan optimistis, khususnya bagi generasi muda.
”Uang bisa naik dan turun. Nilai tukar bisa berubah. Kondisi ekonomi bisa bergejolak. Namun ilmu, kesehatan, karakter, kemampuan menciptakan nilai, dan amanah adalah aset yang akan terus menghasilkan manfaat sepanjang hayat,” pungkasnya.

