SuaraParlemen.id, Jambi – Ibadah qurban tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan dan pembagian daging ke masyarakat ternyata menyimpan dimensi besar yang kerap luput dari perhatian. Di balik rutinitas syariat tersebut, terdapat instrumen kuat yang berdampak langsung pada pembangunan manusia, kesehatan umat, hingga perputaran ekonomi riil.
Pandangan segar ini dipaparkan oleh Muhammad Nor, SE, AIFO-FIT, atau yang akrab disapa Coach Noe. Praktisi kebugaran Islami yang juga mahasiswa Program Magister Ekonomi Syariah Institut Agama Islam SEBI (IAI SEBI) tersebut mengkaji ekonomi qurban melalui kacamata yang berbeda dalam sebuah opini ilmiah.
Menurut Coach Noe, mayoritas pembahasan qurban selama ini masih cenderung berkutat pada aspek fikih, jumlah hewan, atau teknis distribusi saja.
”Padahal jika ditinjau dari perspektif ekonomi Islam dan Maqasid Al-Shariah, qurban memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan dan produktivitas masyarakat,” ujar Coach Noe di Jambi.
Ia menjelaskan bahwa daging qurban bukan sekadar komoditas pangan biasa, melainkan sumber protein hewani berkualitas tinggi. Kandungan zat gizi penting seperti zat besi, zinc, vitamin B12, dan asam amino esensial di dalamnya merupakan fondasi utama yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Sebagai pelatih kebugaran yang bergelut dengan isu nutrisi, ia melihat pembagian daging qurban secara massal sebagai bentuk nyata dari distribusi manfaat kesehatan bagi masyarakat luas.
Hal ini, lanjut Coach Noe, berkaitan erat dengan prinsip Hifz al-Nafs (menjaga jiwa dan kehidupan) dalam Maqasid Al-Shariah. Menjaga jiwa tidak melulu soal melindungi manusia dari kematian, tetapi juga mengupayakan agar umat hidup dalam kondisi sehat, bugar, dan berkualitas.
Qurban sebagai ‘Modal Kesehatan’ Ekonomi Umat
Dalam ekosistem ekonomi modern, kesehatan yang prima dikategorikan sebagai health capital atau modal kesehatan. Ketika masyarakatnya sehat, tingkat produktivitas akan meningkat, yang pada akhirnya memberi sumbangsih besar bagi roda perekonomian.
”Jika ekonomi konvensional banyak berbicara tentang pertumbuhan pendapatan, maka ekonomi Islam juga memperhatikan kualitas manusia yang menikmati pertumbuhan tersebut. Di sinilah qurban memiliki relevansi yang sangat kuat,” tambahnya.
Lebih dari itu, dampak ekonomi riil dari ibadah ini sangat masif karena melibatkan ekosistem yang panjang; mulai dari peternak lokal, pedagang pakan, jasa transportasi, tenaga jagal, hingga kepanitiaan distribusi.
Kendati memiliki potensi besar, Coach Noe mengingatkan agar momentum qurban tidak berhenti sebagai perayaan sesaat. Dampak jangka panjangnya harus dimaksimalkan lewat edukasi gizi yang berkelanjutan, peningkatan literasi kesehatan, dan program pemberdayaan untuk para peternak lokal.
Ia menganalogikan esensi qurban ini dengan dunia olahraga yang ia tekuni sehari-hari.
“Jika olahraga mengajarkan pentingnya memperkuat tubuh individu, maka qurban mengajarkan pentingnya memperkuat tubuh sosial umat. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan manusia yang lebih kuat dan lebih bermanfaat,” pungkasnya. (Amel)

