SuaraParlemen.id, Jambi – Pemahaman masyarakat mengenai program penurunan berat badan atau diet dinilai masih sering terjebak pada pola pikir yang keliru. Banyak pelaku diet yang secara sengaja memangkas porsi makan secara ekstrem dan membatasi aktivitas fisik, dengan harapan bentuk tubuh ideal dapat segera tercapai.

Praktisi Kebugaran Islami sekaligus Pendiri Muslim Bugar, Coach Noe, mengungkapkan bahwa logika dalam dunia kebugaran justru sering kali berkebalikan dari anggapan umum tersebut. Menurutnya, kesehatan dan kebugaran yang optimal tidak dicapai dengan menjadikan tubuh hemat energi, melainkan dengan membentuk tubuh yang “boros” atau mampu membakar energi dalam jumlah besar.

Dalam ilmu kebugaran, terdapat indikator utama penentu kebutuhan energi yang dikenal dengan istilah Total Daily Energy Expenditure (TDEE). TDEE merupakan jumlah total energi yang dibutuhkan oleh tubuh setiap harinya untuk menjalankan seluruh fungsi biologis dan aktivitas fisik, mulai dari bernapas, berpikir, bekerja, hingga berolahraga.

“Jika sepeda motor memiliki tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) harian, maka manusia memiliki TDEE. Menariknya, salah satu faktor terbesar yang menentukan besaran TDEE ini adalah jumlah massa tubuh tanpa lemak, terutama massa otot,” ujar Coach Noe.

Ia menganalogikan tubuh manusia seperti mesin kendaraan. Semakin besar kapasitas mesin (CC) dan semakin berat beban kerjanya, maka semakin banyak pula bahan bakar yang dihabiskan. Oleh sebab itu, memiliki massa otot yang besar akan meningkatkan kebutuhan energi harian, sehingga tubuh menjadi lebih efektif dalam membakar kalori secara konstan.

Sebagai gambaran konkret, Coach Noe membagikan profil kondisi fisiknya saat ini. Dengan berat badan di kisaran 63 kilogram, persentase lemak tubuh di bawah 15%, serta intensitas latihan fisik lebih dari 6 jam per minggu, kebutuhan energi harian dirinya mencapai angka 2.700 hingga 2.900 kalori per hari.

Baca juga :  Komisi IX DPR Soroti Kasus Keracunan MBG di Bogor: Desak Pengawasan Diperketat

Jika dikonversikan ke dalam menu makanan sehari-hari, angka rata-rata 2.800 kalori tersebut setara dengan porsi yang cukup besar, antara lain:

  • Sekitar 4 porsi nasi Padang lengkap,
  • Belasan potong ayam goreng,
  • 8 mangkuk bakso ukuran sedang, atau
  • Puluhan butir telur.

Kapasitas pembakaran inilah yang menjelaskan mengapa dua individu dapat merespons menu makanan yang sama dengan dampak perubahan berat badan yang berbeda. Perbedaan tersebut sepenuhnya bergantung pada kapasitas dan metabolisme “mesin” tubuh masing-masing individu.

Hingga saat ini, edukasi mengenai diet dinilai masih kerap berfokus pada pelarangan jenis makanan tertentu, bukan pada pemahaman kebutuhan energi individu. Padahal secara biologis, tubuh manusia merespons asupan zat gizi dan keseimbangan energi secara keseluruhan, bukan label subjektif mengenai makanan sehat atau tidak sehat.

Coach Noe menegaskan bahwa makanan yang diolah dengan cara direbus atau dikukus tetap dapat memicu kenaikan berat badan jika dikonsumsi melebihi kebutuhan harian. Sebaliknya, target penurunan berat badan tetap dapat dicapai meskipun seseorang mengonsumsi makanan favorit seperti nasi Padang, asalkan total kalori harian yang masuk tidak melebihi ambang batas kebutuhan tubuh.

Selain itu, pemilihan jenis makanan juga harus disesuaikan dengan tujuan fisik yang ingin dicapai. Dalam pemeliharaan massa otot, pemenuhan kebutuhan protein makro menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar menghindari metode memasak tertentu seperti menggoreng.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi fisik tidak diukur dari seberapa banyak jenis makanan yang dihindari secara ketat, melainkan dari sejauh mana seseorang memahami karakteristik dan kebutuhan tubuhnya sendiri. Diet yang sehat bukanlah sebuah metode penyiksaan diri dengan memantang nasi atau mengharamkan gorengan.

Sebagai langkah solutif bagi masyarakat, sistem edukasi terpadu seperti Muslim Bugar System hadir untuk memberikan pendekatan yang lebih personal. Melalui pemahaman yang benar mengenai nutrisi, perencanaan pola makan yang realistis, serta perubahan perilaku yang berkelanjutan, pengelolaan tubuh yang merupakan titipan ini dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab dan berbasis ilmu pengetahuan.